KISAH TARBIYAH AL-HABIB UMAR TERHADAP SEORANG YANG MENFITNAHNYA

 

“Habib… Maafkanlah saya yang telah memfitnah Habib dan ajarkan saya sesuatu yang boleh menghapuskan kesalahan saya ini.”

Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan Habib.”
Habib Umar tersenyum :�“Apa kamu serius?” Katanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan :�“Saya serius, Habib, Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”
Habib Umar terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Habib Umar kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah perintah, atau amalan, atau apa saja yg boleh menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku.

Sejenak kemudian, Habib Umar mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—
“Apakah kamu punya pembersih habuk dari bulu ayam di rumahmu?”

Aku benar-benar hairan Habib Umar justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.
“Maaf, Habib?” Aku berusaha meminta penjelasan dari maksud Habib Umar.
Habib Umar tersenyum lagi, seperti Habib Umar yang biasanya. Dihujung senyumnya, beliau sedikit terbatuk.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, beliau menghampiriku,
“Ya, carilah sebuah pengibas bulu ayam di rumahmu,” katanya.
Nampaknya Habib Umar benar-benar serius dengan permintaannya.

“Ya, saya punya sebuah pengibas bulu ayam di rumah, Habib. Apa yang harus saya lakukan dengan pengibas bulu ayam itu?”
Habib Umar tersenyum.�“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke madrasahku,” katanya,
“Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari pengibas bulu ayam itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingatlah perkataan burukmu tentangku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”

Aku hanya mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Habib Umar adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…Dan aku pasti, tentu ada maksud tarbiah disebalik perintah tersebut. Maka aku hanya menuruti.

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Habib Umar. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.
Keesokan harinya, aku menemui Habib Umar dengan sebuah pengibas bulu ayam yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang pengibas bulu ayam itu pada beliau.

“Ini, Habib bulu-bulu pengibas bulu ayamini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke madrasah ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Habib.
Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Habib yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, Habib. Maafkan saya…”

Habib Umar mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya :�“Seperti aku katakan kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kamu hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar seusatu…,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Habib Umar yang lembut, menyejukkan hatiku.
“Kini pulanglah…” kata Habib Umar.
Aku baru saja akan segera beranjak untuk berundur diri dan mencium tangannya, tetapi Habib Umar melanjutkan kalimahnya :�“Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju madrasahku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan Habib Umar kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya:
“Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yg tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang dapat kamu kumpulkan.”

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Habib Umar.
“Kamu akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Habib Umar.
Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu pengibas bulu ayam yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan.
Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kenderaan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.

Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke ruang-ruang sempit, ke mana saja!
Aku terus berjalan…
Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi peluh. Nafasku berat. Tenggorokanku kering.

Di tanganku, kugenggam lima helai bulu pengibas bulu ayam yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.
Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang ku cabuti dan ku jatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.
Hari berikutnya aku menemui Habib Umar dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu dari pengibas itu pada Habib Umar :�“Ini, Habib, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menghulurkannya pada Habib Umar.
Habib Umar tersenyum :�“Kini kamu telah belajar sesuatu,” katanya.
Aku mengernyitkan dahiku :�“Apa yang telah aku pelajari, Habib?” Aku benar-benar tak mengerti.
“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Habib Umar.

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.
“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Meskipun kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu.
�Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin kamu duga dan sangka, ke berbagai wilayah yang tak mungkin kamu hitung!”
Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Habib Umar.

Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.
“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, kerana kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kamu tak dapat menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kawalanmu, tak dapat kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada hujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya.

Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak dapat membayangkan hujung dari semuanya.

Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup kerana angin waktu telah membuatnya abadi.
Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.�“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim… Astagfirulloh hal-adzhim…”
Aku hanya terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua hujung mataku.
“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Habib. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.

Habib Umar tertunduk. Beliau tampak menitiskan air matanya.�“Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya,
“Kini, aku hanya dapat mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang Maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim…”
Aku disambar tarbiyah yang menggoncangkan batinku!
Aku ingin mengucapkan sejuta istighfar untuk semua yang sudah kulakukan!
Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!
“Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata.

Demikianlah sahabat dan saudaraku. Itulah kenapa, fitnah itu “KEJAM”. Lebih kejam dari pada pembunuhan.

Bayangkan berapa juta wall di media sosial yang kita penuhi kalau 1 kali saja posting fitnah dan itu akan menetap abadi sepanjang masa apalagi kalau di share. Maka setiap kita posting mari di telaah dulu fitnah atau bukan?

Semoga kita terhindar dari fitnah manusia dan fitnah dajjal.�Amiin.

SEMOGA BERMANFAAT

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *